Saturday, March 26, 2016

Pengenalan atas Sang Pencipta

Ternyata kita harus menuntut ilmu untuk bisa meningkatkan keimanan kita. Kita harus bersyukur bahwa kita masih diberikan kehidupan oleh ALLAH Yang Maha Kuasa sehingga kita bisa berusaha untuk memohon ampun kepada ALLAH atas segala dosa yang telah kita lakukan didunia ini, dan berusaha untuk memperbaiki kwalitas keimanan kita dengan berusaha memaksakan diri kita untuk membaca Kitab Suci Al Quran agar supaya kita bisa mendapatkan Petunjuk dari ALLAH yang disampaikan ALLAH  kepada kita melalui utusan dan Rasul ALLAH yaitu  Nabi dan Rasul Muhammad S.A.W. 
  • Tanpa kita mau membaca Al Quran terutama kandungan isinya dan mencoba menghayati pesan apa yang hendak disampaikan oleh ALLAH kepada kita, bagaimana bisa kita meningkatkan iman kita. Bagi kita yang dilahirkan sebagai orang muslim karena orang tua kita muslim, tidaklah cukup untuk bisa mengenal ALLAH, tanpa mendapatkan ilmu yang tertuang dalam Kitab Suci ALLAH,   karena untuk bisa mengenal ALLAH dan mengetahui apa yang diinginkan oleh ALLAH terhadap  kita,  hanyalah dengan  Ilmu dari ALLAH yang hanya bisa kita dapatkan jika kita  memaksakan diri kita untuk mau membaca Kitab Suci AL Quran. Memang segala sesuatu itu adalah melalui proses perjalanan kehidupan kita, tapi sampai berapa lama umur kita yang diberikan ALLAH kepada kita,  tidaklah bisa kita pastikan,  karena kitapun lahir di dunia ini, baik kapan maupun  dimana serta melalui orang tua yang berbangsa apa dan beragama apa,  bukan atas kehendak dari kita,  melainkan adalah semata-mata karena kehendak dan izin dari ALLAH Yang Maha Kuasa. 
Dunia itu memanglah penuh dengan kemisterian, namun begitu sekali kita dilahirkan diatas dunia ini, orang tua kitalah yang pertama kali menanamkan pendidikan baik ilmu kesopanan, etika, budi pekerti maupun pegangan yang dipegang oleh orang tua kita. Menurut pengalaman Penulis yang telah diberikan umur lebih dari 64 tahun hidup didunia oleh ALLAH, maka pendidikan dini atas pengenalan siapa Sang Pencipta kita oleh orang  tua kita adalah sangat membekas dan mewarnai kehidupan kita selanjutnya. 
  • Bekal dari orang tua kita khususnya apakah kita diperkenalkan dengan pengetahuan adanya Sang Maha Pencipta adalah sangat penting. Kalau dilingkungan keluarga kita tidak pernah diperkenalkan  mengenai adanya Sang Maha Pencipta dan hanya diperkenalkan masalah keduniawian tanpa dikaitkan dengan Zat yang menciptakan dunia ini, tentunya sang anak akan dibesarkan dengan keluarga yang model sekuler atau keduniawian saja. Maka kita harus bersyukur jika kita diberikan oleh ALLAH,  orang tua  yang memberikan bekal pengenalan akan Sang Pencipta dari kehidupan ini,  karena hal ini  bisa menanamkan keinginan lebih pada diri kita untuk mencari kebenaran akan adanya Sang Maha Pencipta dari kehidupan kita ini. 
Selanjutnya sekolah dimana kita disekolahkan oleh orang tua kita masing-masing,  secara dini jugalah banyak memainkan peranan didalam mewarnai kehidupan kita dalam masa perjalanan kehidupan kita.  Jika di sekolah kita diajarkan pengenalan akan adanya Sang Maha Pencipta,  tentunya juga berbekas dan berkesan bagi kita untuk lebih lanjutnya mengkaitkan kehidupan ini,  apakah hanya semata-mata keduniaan saja ataukah dikaitkan dengan adanya Sang Maha Pencipta yang menciptakan kita didunia ini. 
  • Lebih lanjut lingkungan rumah kita ikut berperanan mewarnai tingkah pola kelakuan kita didalam berperilaku, maupun mewarnai pembentukan  serta kebiasaan yang pada akhirnya membentuk karakter kita. Nah,  untuk mengenal adanya Sang Maha Pencipta yang menciptakan dunia semesta alam dan diri kita  ini,  tidaklah bisa kita hanya menduga-duga memakai angan-angan atau perkiraan kita khususnya mengenai siapa yang menciptakan kita, dimana kita sebelum kita dilahirkan maupun setelah nanti kita meninggalkan dunia ini, siapa yang menciptakan dunia semesta alam ini beserta seluruh isinya, matahari, bulan, bintang maupun tanaman dan binatang yang ada didunia ini. Banyak persoalan didunia ini yang nampaknya dalam perjalanan tidak kelihatan tuntas dengan pengertian apakah orang yang tidak jujur akan disamakan dengan orang yang tidak jujur setelah ia meninggalkan dunia ini. Bagaimana pertanggung jawaban dari setiap orang didunia yang sementara ini. Apakah kita hanya akan hilang begitu saja seperti debu tanpa adanya pertanggung jawaban apapun  ?
Untuk itulah kita rasakan perlu adanya tuntunan dari Sang Maha Pencipta, melalui informasi yang disampaikan kepada kita sebagai manusia, dimana pada  umumnya kita mengenal adanya  agama,  atau keyakinan kepercayaan yang bisa kita jadikan dasar informasi mengenai Sang Maha Pencipta tersebut.
  • Setelah kita berusaha mencari data atau informasi yang pada era jaman sekarang ini bisa kita peroleh dari berbagai sumber termasuk  melalui Media Internet maupun Google serta You Tube, maka kita bisa mendapatkan berbagai informasi dan sumber yang hendak kita cari khususnya terkait dengan agama serta aliran kepercayaan ini, disamping buku cetakan yang bisa peroleh dari Toko Buku yang tersedia.  Nah apapun sumber dan datanya untuk mendapatkan ilmu tersebut memang haruslah ada kemauan dari diri kita masing-masing untuk mencari kebenaran informasi mengenai siapa Sang Pencipta dari semua semesta alam ini termasuk dunia, diri kita, matahari, bulan, malam dan siang yang bergantian terjadinya silih berganti. Mengingat Penulis dilahirkan dari orang tua yang muslim, maka Penulis tentunya berangkat dari membaca dan mendalami isi Kitab Suci Al Quran, yang kadangkala dengan berlalunya umur kita kita senantiasa merasakan bahwa kita baru saja merasa beriman dan berkeinginan untuk mengenal lebih jauh mengenai ALLAH dimana banyak sekali ayat Al Quran yang menjelaskan sifat dari ALLAH  Sang Maha Pencipta ini. 
Dalam Kitab Suci Al Quran ini selain zamannya Nabi Muhammad S.A.W. juga banyak diceritakan pengenalan dan perintah untuk menyembah hanya kepada ALLAH Yang Maha Esa pada masa dari Para Rasul dan Nabi sebelum Nabi Muhammad S.A.W. yaitu masanya Nabi Musa, Nabi Saleh, Nabi Isa, Nabi Ismail, Nabi Luth dan nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad S.A.W berikut pengikut umatnya maupun kaum yang tidak mempercayai maupun mengingkari Para Rasul dan Nabi utusan ALLAH tersebut.    
  • Hal yang menarik adalah pada saat Nabi Muhammad berdakwah di Mekah maupun Medinah, dilokasi kota tersebut bukannya hampa atas suatu keyakinan, namun pada penduduknya sudah ada keyakinan keimanan baik dari keyakinan yang menyembah Berhala yaitu Para Musyrikin yang tentunya keyakinan itu adalah "sama sekali salah" karena Berhala saja dibuat oleh manusia bagaimana si berhala benda mati tadi bisa memberikan manfaat maupun mudharat  kepada kita; Selanjutnya  dilokasi Mekah dan Medinah ada  pengikut dari Ahli Kitab baik Taurat maupun Injil,  namun kita diinformasikan oleh ALLAH dalam Al Quran telah terjadinya penyimpangan maupun pengingkaran oleh para pengikut Nabi Musa maupun para pengikut Nabi Isa,  setelah Nabi Musa dan Nabi Isa meninggal atas ajaran yang diwahyukan oleh ALLAH kepada Nabi Musa maupun Nabi Isa untuk disampaikan kepada umat Nabi Musa dan Nabi Isa untuk hanya menyembah kepada ALLAH Yang Maha Tunggal. 
Dengan demikian diberitakan oleh ALLAH dalam AL Quran telah  terjadinya penyimpang atas Ajaran Pokok DASAR KETAUHIDAN  maupun Konsep Tidak adanya kebutuhan ALLAH untuk mempunyai anak atau keturunan, karena Zat ALLAH adalah Maha Tunggal Esa dan ALLAH tidak menggantungkan diri pada hal lain serta Zat ALLAH melainkan segala sesuatu adalah tergantung hanya kepada ALLAH yang Maha Kekal Abadi dan ALLAH sama sekali tidak membutuhkan adanya keturunan,   sesuai dengan isi dari Firman ALLAH didalam berbagai surat didalam Kitab Suci Al Quran  khususnya Surat Al Ikhlas. 
  • Penulis Copy dan Cut Paste dari  http://gagaje.blogspot.co.id/2013/05/surah-al-ikhlas.html
    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
    Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un).


    Translate:
    1). Say : He is Allah , the One!
    2). Allah , the eternally Besought of all!
    3). He begetteth not nor was begotten
    4). And there is none comparable unto Him


    Artinya:
    1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
    2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
    3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
    4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Jadi Konsep Ketauhidan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim yang telah menentang Bapaknya menyembah berhala adalah berdasarkan Wahyu dan Ilmu Pengetahuan Petunjuk Cahaya ALLAH yang diperoleh Nabi Ibrahim dan dilanjutkan dengan keturunan dari Nabi Ibrahim tersebut hingga kejalur Nabi Isa dan Muhammad S.A.W. sesuai dengan Firman ALLAH didalam Kitab Suci terakhir Al Quran dan Nabi terakhir Nabi Rasul Muhammad S.A.W.     
  • Satu2nya jawaban yang bisa menjawab mengenai siapa Pencipta ALLAH hanyalah dapat diperoleh dari ALLAH sendiri, dan tidak bisa kita karang-karang semau kita. Maka kita harus bersyukur kepada ALLAH jika kita dilahirkan melalui orang tua yang beriman yang memberikan kita pengenalan dini atas   adanya Zat yang menciptakan alam dunia ini termasuk diri kita. 
Kita tidak boleh sedikitpun sombong melainkan harus senantiasa bersyukur sehingga kita punya keinginan untuk terus menerus mencari kebenaran hakiki untuk mau mengenal Zat yang Menciptakan kita, dengan membaca Kitab Suci yang telah diturunkan oleh ALLAH kepada kita, karena banyak orang mualaf yang lebih beriman daripada kita yang lahirnya ber KTP sebagai muslim namun tidak dibekali untuk mau mengenal kenapa kita beragama Islam, dan memikirkan bahwa seolah-olah kita bisa otomatis mendapatkan ilmu Islam dan mengenal Zat Pencipta yang Maha Tunggal dengan benar,  tanpa diberikan Hidayah oleh ALLAH untuk mau membaca Kitab Suci Al Quran yang membenarkan Kitab Suci Taurat dan Injil sepanjang Konsep Ketauhidan sesuai dengan Patokan dalam Kitab Suci Al Quran, karena hanyalah ALLAH yang berkewenang untuk memberikan hidayah kepada kita sesuai dengan kehendak ALLAHl 
Jika kita telah mendapatkan Hidayah serta Taufik dari ALLAH  untuk mau memahami dan melaksanakan perintah ALLAH dan menjauhi larangan ALLAH, maka kita diwajibkan untuk berdakwah oleh Rasul kita Nabi Muhammad S.A.W. walaupun "hanya satu Ayat" untuk menyampaikan pesan ALLAH dan Para Rasul untuk hanya menyembah kepada ALLAH dan sama sekali  tidak boleh syirik menyembah selain ALLAH yang Maha Esa sebagai Konsep Ketauhidan yang sudah diwahyukan kepada Para Rasul dan Nabi sebelum Nabi Muhammad S.A.W. dimana Nabi Muhammad S.A.W adalah merupakan salah satu dari Para Rasul dan Nabi yang membenarkan Rasul dan Nabi terdahulu yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa yang pernah diutus oleh ALLAH kedunia,  dimana Kitab Suci Al Quran adalah sebagai Benchmark terakhir untuk dijadikan acuan kebenaran Ketauhidan - La Ilaha Ilallah  yaitu tidak ada Ilah yang kita sembah (worship)  melainkan hanya ALLAH, sesuai dengan isi Kitab Suci Al Quran dalam Surat permulaan Al Fatihah maupun Surat Al Baqarah.... semoga kita mendapatkan Hidayah dan Taufik untuk mau memahami ALLAH sesuai dengan ajaran Islam yang berarti Berserah diri hanya kepada ALLAH.....      
Jakarta 26 Maret 2016 Agung Supomo Suleiman Malam Minggu direvisi dini hari 27 Maret 2016.....

Saturday, March 12, 2016

Membaca Kitab Suci AL QURAN Untuk Mendapatkan ILMU DARI ALLAH

Jika kita membaca dan mendengarkan Ceramah maupun Tausyiah melalui You Tube di Era Komunikasi Global ini, maka terekam adanya beberapa cara dan persyaratan untuk dapat menunaikan dan mempertahankan  kwalitas keimanan kita yang memang berpotensi untuk naik dan turun. 
  • Yang ditekankan oleh para ahli pemberi Tausyiah adalah kita harus berpatokan kepada Kitab Suci Al Quran,  yang membenarkan Kitab2 Suci terdahulu yang diturunkan kepada para Rasul dan Nabi terdahulu, dimana kita harus mempunyai Ilmu yang datangnya dari ALLAH untuk dapat melaksanakan pemahaman kita tentang ketaqwaan, ketauhidan terhadap ALLAH Yang Maha Tunggal. 
Permulaan untuk mendapatkan Ilmu dari ALLAH ini  haruslah berpatokan kepada Firman ALLAH didalam Kitab Suci Al Quran yaitu dengan mau "MEMBACA"  Petunjuk dari ALLAH yang telah diturunkan oleh ALLAH melalui Wahyu yang disampaikan oleh ALLAH kepada Nabi Muhammad S.A.W. melalui Malaikat Jibril sebagaimana kita baca dalam Surat  Al Alaq ayat 1 hingga 5.

https://rumaysho.com/3505-tafsir-surat-iqro-1-bacalah-dan-bacalah.html
Surat Al Alaq ayat 1 hingga ayat 5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

 Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5  

  • Surat Al Alaq ini diturunkan di Gua Hira dan merupakan surat yang pertama kali diturunkan oleh ALLAH melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad dimana diperintahkan kepada Beliau  untuk membaca : Bacalah !  dengan (menyebut) Nama Rabbmu Yang Menciptakan, DIA telah menciptakan manusia dari segumpal darah . Bacalah ! dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam ( Pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. 
 Jadi pada pokoknya Muhammad ( guna disampaikan kepada Manusia)  diperintahkan oleh ALLAH untuk :
  1. membaca dengan menyebut Nama Rabbmu Yang Menciptakan, dimana dengan membaca dengan ( menyebut ) ALLAH Yang Menciptakan, selanjutnya 
  2. ALLAH memberitahukan bahwa ALLAH menciptakan manusia dari Segumpal Darah
  3. Selanjutnya kita diminta sekali lagi untuk membaca Bacalah !  dengan nama Rabbmu  Yang Maha Pemurah, dan
  4. diberitahu kita oleh ALLAH dalam Surat Al Alaq ini bahwa ALLAH yang mengajarkan kita manusia dengan perantaraan (Pena), dan 
  5. kemudian dengan membaca Surat Al Alaq ini kita diberitahukan bahwa ALLAH yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya
Dengan diturunkan Surat AL Alaq ayat 1 - 5 kepada Muhammad yang memang sedang dalam proses mencari kebenaran,  dimana Beliau pergi ke Gua Hira untuk merenung dan memisahkan diri dari keramaian yang diketahui oleh isteri Beliau yaitu Khadijah, maka dengan diturunkan Surat Al Alaq kepada Muhammad,  dimulailah "Zaman Pencerahan"  kepada penduduk Bangsa Arab - Umat manusia -  untuk meluruskan kembali "Mindset" dari manusia atas masalah  Siapa Yang Menciptakan manusia,  dengan membaca Surat Al Alaq ini;   
Muhammad diminta untuk "MEMBACA" dimana bahasa Arab sebagai Bahasa Nabi Muhammad S.A.W. berada di daerah Mekkah adalah "IQRA" dengan Menyebut ALLAH - Rabbmu  Yang Maha Pemurah.  Ke- Maha Pemurahan ALLAH adalah dengan mengajarkan manusia melalui Qolam (Pena) untuk mengajarkan Manusia apa yang tidak diketahuinya....
Dengan membaca ini kita bisa memperoleh Ilmu...dari ALLAH yang semula manusia tidak mengetahui ...apa yang akan diajarkan ALLAH melalui Qalam (Pena) ini.
Pada kenyataan fakta yang kita alami, jika kita terapkan pada masa kekinian dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk untuk diri kita sendiri, dan lingkungan kita berada, ternyata untuk mau memulai Membaca Kitab Suci yang bernama Al Quran yang telah membenarkan Kitab Suci sebelumnya, adalah "seringkali sulit" untuk memulainya dan harus "kita paksakan pada diri kita" masing-masing, untuk mau mulai membacanya.
  • Hal ini mungkin karena menyangkut faktor Keimanan, khususnya Keimanan kepada ALLAH Yang Maha Tunggal -  dimana nampaknya dibutuhkan adanya kehadiran dan keterbukaan "Qolbu" kita untuk mau "Membaca" - IQRA -  Firman - Kalimat atau KalumuLLAH, yang diturunkan kurang lebih 1500 tahun yang lalu melalui Wahyu kepada  Muhammad melalui Malaikat Djibril, yang pada saat itu Muhammad belum diutus sebagai Rasul atau Nabi, namun Muhammad barulah seorang  manusia yang berusaha untuk mencari lebih dalam pengertian akan hakekat kebenaran yang hakiki dalam kehidupan didunia ini, dengan mengasingkan diri dari keramaian pergi ke GUA HIRA, dan pada akhirnya mendapatkan wahyu pertama kali dari ALLAH melalui Malaikat Djibril yang memerintahkan Muhammad untuk Membaca Surat Al Al Alaq ini. 
Bagi kita dalam masa kekinian,  kita tidak perlu lagi mengasingkan diri ke Gua karena, Petunjuk ALLAH sudah ada di Kitab Suci AL Quran, yang telah diturunkan oleh ALLAH kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Djibril, untuk kita baca. Nah, dalam proses kita untuk mencari tahu Siapa Pencipta kita sebagai manusia, keinginan tahuan ini  adalah masuk  dalam kategori  "Keimanan", sehingga  merupakan masalah "Hidayah" dari ALLAH,  yang diberikan kepada manusia, sesuai kehendaki ALLAH, untuk mau tergerak membaca Kitab Suci Al Quran, yang pada asal muasalnya, kita sebagai manusia memang berniat dan berkeinginan untuk benar-benar mencari "Kebenaran Hakiki"  mengenai Hakekat Kehidupan yang Mendasar  antara lain :
    http://nikmatnyaiman.blogspot.co.id/
  • Mengapa kita sebagai manusia berada dan hidup di Dunia ini ?  
  • Siapa yang Menciptakan kita sebagai manusia ini  ?
  • Siapa yang menciptakan dan Mengatur semua Kehidupan di Alam Semesta ini ?  
  • Kenapa setelah kita terlahir kedunia kita banyak mengalami Cobaan dan Tantangan serta Kegagalan dan Kekecewaan dalam Hidup ini ? 
  • Kenapa ada manusia yang miskin dan ada manusia yang berkelimpahan harta ?
  • kenapa kita sebagai manusia  harus mengalami masa Penuaan setelah dengan susah payah kita bekerja keras didalam profesi, kerjaan dan usaha kita masing-masing, yang dimulai dari perjalanan hidup kita lahir, aqil balik,  tumbuh menjadi dewasa, sekolah, kuliah, bekerja, pensiun, menua dan  pada akhirnya mengalami kematian yang dimulai dengan melemahnya setiap bagian dari anggota tubuh kita ini ?
  • dari mana asal kita dan kemana pula jika kita sudah meninggalkan  dunia ini  ?
Jawaban atas berbagai pertanyaan mendasar diatas, nampaknya tidak dapat  kita "karang-karang" dan duga-duga sendiri, melainkan harus mendapatkan Informasi dari "Yang Menciptakan Kehidupan dan Kematian ini".
  • Guna bisa mendapatkan jawaban diatas, mulai berproseslah kita untuk mencari Jawabannya, baik dengan merenungi fenonema alam, tumbuhan, batu-batuan, binatang, pergantian malam dan siang, adanya matahari, bumi dan bulan serta bintang, yang pada akhirnya kita membutuhkan data yang bisa kita baca, pelajari, hayati dan renungkan; 
Dalam fakta cerita manusia banyak sekali pencarian akan hakekat kebenaran dan misteri kehidupan ini yang dipelajari oleh manusia, yang pada ujungnya jika menyangkut Penciptaan dari Alam Semesta ini manusia akan  mencari data bacaan, dimana banyak manusia yang telah berganti-ganti  buku bacaan untuk mencari jawaban yang dapat memuaskan bathin, hati nurani serta akal pikirannya.
  • Kalau bagi Penulis sendiri karena Orang Tua Penulis adalah Muslim maka Penulis berusaha  membaca dari Kitab Suci AL Quran maupun Hadist serta buku bacaan karangan yang ahli  terkait hal kepercayaan dan keimanan ini.  Namun ada kalanya Penulis sibuk dengan hal yang lain sehingga kadangkala lupa untuk membaca Kitab Suci tersebut,  karena Iman bisa naik dan turun menurut keterangan Para Ahli Tausyiah dan ahli agama. 
Pada kenyataannya bagi manusia  umumnya,  semua  tergantung kepada banyak faktor yang mengelilinginya dan membentuk cara dia berpikir dan berkepercayaan, yaitu antara lain  dimana manusia tersebut  dilahirkan, siapa orang tua manusia  tersebut,  kepercayaan apa yang dipegang oleh Orang Tua yang melahirkan dan membesarkan diri serta mendidik kita,  termasuk siapa yang menanamkan rasa kepercayaan dan keyakinan untuk dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan diatas tersebut;
  • Berdasarkan uraian diatas maka,  guna memperoleh  jawaban atas pertanyaan tersebut, kita harus mencari dengan "Ilmu keyakinan"  yang membicarakan Kebenaran Siapa Pencipta dari Alam Semesta ini ? Hal mana sepenuhnya tergantung pada situasi dikalangan mana kita dibesarkan serta lingkungan apa yang mengitari perjalanan kehidupan kita ini dari kecil, akil  baliq, remaja, dewasa, hingga kita menjadi tua. Memang setiap manusia mempunyai pandangan berbeda-beda tergantung dari lingkungan adat, sosial, taraf pendidikan, budaya, adat, lingkungan sosial disekeliling kita. 
Yang seringkali muncul kepermukaan adalah Apakah semua Agama dan Kepercayaan sama ? Dari manakah sumber cikal bakal dari Agama maupun kepercayaan yang dianut oleh manusia tersebut ? Apakah penting dan perlu untuk mengetahui kemana setelah kita meninggalkan Dunia ini ? Kemanakah Orang Tua kita yang telah meninggal Dunia ? Kemana Kakek- dan Nenek kita terdahulu ? Apakah ada Kehidupan lain setelah Kehidupan yang kita alami didunia ini ? Kenapa harus ada proses kematian ? Makin banyak pertanyaan yang bersifat diluar jangkauan kita ini untuk dapat menjawabnya, maka  pada ujungnya kita berkesimpulan bahwa Jawaban atas Pertanyaan Kemanakah setelah kita mati atau Orang Tua serta Kakek Nenek kita meninggal,  perlulah kita mendapatkan jawaban yang tepat dan benar serta tidak membingungkan bahkan menyesatkan. 
  • Untuk hal inilah diperlukan adanya Informasi yang datangnya dari Pencipta dari Kehidupan dan kematian ini. Maka diperlukan adanya "Keimanan" dan "Keyakinan" yang bisa kita pegang agar hidup kita bisa terarah dan tidak terombang-ambing tidak menentu. Disinilah perlunya "Bantuan dari ALLAH" untuk dapat menuntun kita untuk mau mendapatkan jawaban yang tepat dan benar, dimana jika kita mau membaca Kitab Suci yang ada tentunya kita dapat memperoleh jawabannya.  
Mengingat Penulis dilahirkan dari Orang Tua yang menganut Agama Islam, maka Penulis dari semenjak kecil memang sering membaca Kitab Suci  Al Quran, Hadist maupun bacaan Buku yang menceritakan  mengenai masalah Keimanan Islam ini, Dalam perjalanan menjelang Senja ini, Penulis berkeinginan untuk benar-benar secara sungguh-sunggh membaca berulang-ulang Isi Kandungan Kitab Suci Al Quran guna dapat memperoleh  Jawaban atas pertanyaan yang terurai  diatas, untuk hal mana memang ajaib sekali yang dapat dirasakan oleh Qalbu kita yang membaca Kandungan dari Al Quran, dimana kita bisa mendapatkan informasi bahwa ada hati yang tertutup dan ditutup oleh ALLAH karena mengingkari ALLAH serta ayat-ayat ALLAH, meskipun diberi peringatan atau tidak sama saja,   ada Hati (Qolbu)  yang berpenyakit (Fi Qulubihi Maradun) terus ditambah penyakitnya oleh ALLAH, karena memang manusia tersebut berdusta terus menerus;
  • Kita juga memperoleh informasi bahwa dalam memulai membaca Kitab Suci Al Quran kita diminta untuk mohon Perlindungan kepada ALLAH dari Godaan Syaitan agar pemahaman kita tidak dibelokin oleh pemikiran dan pemahaman  yang salah dari Syaitan ini. 
Dalam Kitab Suci Al Quran kita juga temukan bahwa kita haruslah banyak Bertobat atas kesalahan yang telah kita perbuat, karena ALLAH adalah Maha Pengampun, untuk hal mana kita haruslah mengakui kesalahan kita dan Mohon Taubat kepada ALLAH, dan mohon kepada ALLAH agar kita senantiasa mau membaca Kitab Suci Al Quran untuk Insya ALLAH,  mendapatkan Hikmah dan Pemahaman atas pesan ALLAH yang hendak disampaikan kepada kita manusia yang bersifat banyak kekurangan dan ketidak sempurnaan ini, melalui AL Quran ini. 
  • Jangan sampai kita menyesal di Hari Kiamat, jika kesempatan untuk berobat telah diberikan ALLAH didunia ini, namun kita menyia-nyiakan waktu yang masih diberikan kepada kita, sebelum nyawa berada di Kerongkongan karena hendak dicabut oleh Malaikat Maut sebagai utusan dan petugas dari ALLAH untuk mencabut  Nyawa kita dari Tubuh kita. 
Pengalaman Penulis untuk mendapatkan Pemahaman, atas Kitab Suci Al Quran,  kita haruslah bertaqwa dengan pengertian kita menjauhkan larangan ALLAH dan kita menjalankan perintah ALLAH. Dengan kita berusaha untuk menjauhi larangan ALLAH dengan terlebih dahulu memohon Taubat kepada ALLAH atas dosa-dosa yang kita lakukan, dan mengadakan perbaikan untuk tidak mengulangi tindakan dosa-dosa tersebut; 
  • Selanjutnya kita juga harus sholat Tobat dan Sholat Malam dengan sungguh - sungguh mau mengerjakan Sholat malam dan mohon untuk senantiasa di jaga ALLAH untuk mau mentaati ALLAH dan kita harus paksakan diri kita untuk membaca dan mendengarkan ayat Suci ALLAH dari Kitab Suci Al Quran atau dari Gigital Al Quran,  serta mendengarkan Tausyiah baik di Mesjid dekat rumah kita maupun melalui You Tube yang sekarang banyak sekali Tausyiah di You Tube untuk bisa mendapatkan pencerahan dari Para Ahli Agama   dengan berbagai Tema.   
  • Nanti tidak terasa kita akan merasakan perbedaan dalam perasaan termasuk Qolbu kita akan adanya ketenangan, kenikmatan serta pemahaman dan keinginan lebih jauh untuk memperdalam pembacaan Kitab Suci - Al Quran dengan pemahaman dan penghayatan Insya ALLAH diberkahi ALLAH.    
Mungkin sekian dahulu tulisan Penulis malam Sabtu ini, tanggal  12 Maret 2016 direvisi 13 Maret 2015 Minggu jelang siang hari.
Jakarta, 12 Maret 2016
Agung Supomo Suleiman                                                   

    

Friday, March 11, 2016

KEIMANAN PROSES PERJALANAN NAIK TURUN

Dengan adanya kawanku Ichwan membuat WA Kafah-Komunitas Al-Fatihah, Penulis  sangat merasakan bersyukur dan beruntung karena Insya ALLAH, Penulis bisa lebih terarah didalam melakukan Penulisan di Blog Nikmatnya Iman ini. Memang Penulis dari dahulu senang  menulis dengan macam-macam  Tema, agar bisa tercatat apa yang ada di pikiran Penulis pada satu saat dari Fragmentasi Perjalanan kehidupan kita.
Dengan bertambahnya umur yang diberikan dan diizinkan ALLAH kepada kita,  maka terasa bahwa kita harus ada Pegangan yang kuat untuk bisa kita pegang agar kehidupan kita tidak menjadi terombang-ambing dan tidak terarah engga karu-karuan bahkan bisa tersesat kejalan yang tidak benar didalam perjalanan dunia yang makin canggih dan kompleks ini.

Kita bisa melihat bahwa hubungan antara benua semakin terasa dekat untuk bisa berkomunikasi   melalui Teknologi Internet maupun WA, Facebook, Twiter, Skype yang  sudah tidak mengenal lagi sekat dan batas Geographis. Proses pengenalan Keimanan yang naik turun memang merupakan suatu proses jatuh bangun dengan pengalaman perjalanan hidup kita masing-masing, dimana dengan perjalanan hidup yang sudah kita lalui kita merasakan membutuhkan suatu Pegangan yang teguh dan kuat yang tidak lentur dengan zaman. Nah Penulis yang dilahirkan oleh orang tua yang muslim tentunya diajarkan untuk membaca Kitab Suci Al Quran. Dengan Penulis memaksakan diri untuk mau membaca kandungan isi Al Quran, kita temukan ayat yang menyatakan bahwa keimanan kepada ALLAH mempunyai Pegangan yang kuat dan tidak akan putus, yaitu terdapat dalam  

Surat Al Baqarah ayat 256 : 
Allah Ta’ala berfirman,

لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 256).

Disini kita lihat bahwa ALLAH berfirman :......tidak ada paksaan dalam beragama, karena sesungguhnya sudah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat, dimana disebutkan bahwa barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada ALLAH, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada "Buhul Tali yang amat Kuat yang tidak akan Putus. 

  • Bayangkan saja ALLAH yang menciptakan ALAM Semesta alam ini, telah  membuat perumpamaan bahwa barang siapa yang beriman kepada ALLAH, diumpamakan dia telah berpegang kepada Buhul Tali Yang Amat Kuat yang tidak akan Putus; 
Karena yang berfirman adalah ALLAH maka kita sebagai manusia yang beriman, harus membangun perasaan "Keyakinan" dalam Qalbu kita yang "tidak boleh ragu-ragu", bahwa barangsiapa yang ingkar kepada Taghhut, dan beriman kepada ALLAH maka kita diibaratkan oleh ALLAH ...telah memegang Buhul Tali yang Kuat dan tidak akan Putus.
  • Dari pengalaman Penulis, untuk membangun keyakinan ini memang adalah melalui proses jatuh bangun didalam perjalanan hidup kita, dimana misalnya Penulis yang berprofesi sebagai Freelance Independent Business Lawyer, sangat kental dengan masalah adanya istilah Iktikad baik versus iktikad buruk, Wanprestasi atas Janji yang sudah disepakati bersama antara Para Pihak dalam suatu Perjanjian Bisnis, seringkali pihak yang mempunyai Modal yang lebih kuat, dalam rangka melaksanakan negosiasi Perjanjian Bisnis,  akan terasa  hendak  bertindak sewenang-wenang terhadap Partner Bisnis atau Mitra Bisnis yang membutuhkan adanya bantuan Modal Investasi awal, sehingga terasa adanya perlakukan yang tidak wajar atau kurang adil dan bijaksana dari salah pihak yang biasanya dilandaskan kepada keserakahan dan hawa nafsu yang ingin cepat mengakumulasikan kekayaan dengan cara yang tidak adil maupun transparan. 
http://nikmatnyaiman.blogspot.co.id/
  • Belum lagi Pihak Birokrat baik di Level Esekutif dan Legislative yang kadangkala didalam membuat Regulasi atau mengeluarkan izin untuk usaha berlaku, seringkali menyalahkan gunakan kekuasaan dan wewenangnya sehingga kalau hanya berdasarkan pada Hukum Dunia semata, yang seringkali kita lihat para anggota DPR maupun Eksekutif, akan berusaha untuk membuat Peraturan hingga Undang-undang yang tidak adil dan seimbang, apalagi jika prosesnya dilalui dengan Lobbying yang tidak fair yang mewakili kepentingan Pemodal, dimana terjadi kepentingan memperkaya diri sendiri dan pribadi dengan menyalahkan gunakan jabatan dan wewenang yang seharusnya dibebankan Amanah dari Rakyat agar bisa mensejahterakan taraf kwalitas dan kwantitas hidup dari Rakyat Umum. 
Nah, jika manusia yang terlibat tidak mempunyai landasan agama yang benar dari Kitab Suci yang diturunkan dari Pencipta Alam Semesta Alam ini, melalui Para Nabi dan Utusan Rasul ALLAH,  maka akan terjadilah kesemerawutan Peraturan yang merupakan "Produk Politik" yang tidak bermoral dan jauh dari Etika dan Rasa Keadilan kepada masyarakat umum yang membutuhkan perlindungan dan Jaminan adanya Pendidikan, Kesehatan, Rumah tempat tinggal, Pangan yang bergizi, termasuk masalah transportasi Umum yang Aman dan Nyaman.  
  • Maka dengan pengalaman panjang tersebut, Penulis merasakan bahwa semua pejabat baik di Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun para Pemodal, termasuk Para Lawyer, Penasehat Keuangan, Management, dan semua stack holder haruslah dibekali "Keimanan" kepada ALLAH, Para Rasul, Kitab Suci  dan Hari Akhir, agar dapat membatasi Keserakahan dan tindakan yang melampaui batas yang lebih dikendalikan oleh hawa nafsu untuk memperkaya diri sendiri didunia yang serba sementara dan tidak kekal ini. 
Memang semua manusia mempunyai latar belakang pendidikan serta lingkungan dan dibesarkan ditempat dan suasana yang berbeda-beda dan bermacam ragam, sehingga kita harus juga melakukan pendekatan yang komprehensif dan meluas dari segala macam aspek termasuk aspek Keimanan dan kepercayaan mereka masing-masing. Nah bagi penganut Muslim jika dapat berusaha melakukan penyadaran dengan mau membaca Kitab Suci Al Quran dan mempelajari, memahami,  menghayati dan mengamalkan didunia yang nyata karena dunia ini adalah ladang kita yang hasilnya adalah di Akhirat, maka kita harus berusaha menjadi orang yang meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kita kepada ALLAH, Para Rasul, Kitab Suci, Hari AKhirat atau Hari Kebangkatan dan Haru Pembalasan. 
Semoga....

Jakarta, 12 Maret 2016
Agung Supomo Suleiman