Saturday, August 31, 2019

MENCARI KEBENARAN HAKIKI KETAUHIDAN MONOTHEISM

Sesuai nasehat Para Ahli Agama Islam/ Ustad /Ulama, jika kita bangun tengah malam dan kita membaca Kitab Suci AL Quran dimalam hari, maka In Syaa ALLAH, kita  dapat lebih  meresapi makna dari ayat suci yang diturunkan oleh ALLAH dalam Kitab Suci AL Quran.

Mungkin karena suasananya sepi di malam hari dimana kebanyakan manusia sedang istirahat tidur, sehingga dalam keheningan malam rasanya nyaman dan tidak tergesa-gesa didalam membaca ayat suci AL Quran tersebut.

Hal diatas sesuai  penjelasan dari Imam an Nawawi dalam Buku Al Adzkar an-Nawawi yang menyebutkan waktu -waktu yang diutamakan membaca Al Quran.

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi menyebutkan waktu-waktu yang diutamakan membaca Al-Quran. Menurut Imam an-Nawawi, ada waktu-waktu tertentu yang disebut lebih utama untuk membaca Al-Qur’an.
"SALIN" 
Pertama, waktu malam. Mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar. terutama di paruh waktu malam, mulai jam 12 malam sampai terbit fajar. Ini disebut Imam an-Nawawi sebagai waktu yang paling utama. Sedangkan antara Maghrib sampai Isya di sebut waktu yang dianjurkan (mahbubah)
Kedua, waktu siang. Adapun yang paling utama di waktu siang ini adalah setelah shalat subuh. Menurut Imam an-Nawawi, tidak ada waktu yang dimakruhkan dalam membaca Al-Quran, walaupun di waktu-waktu yang dimakruhkan untuk shalat.
"Selesai Salin"

Berdasarkan keterangan diatas, maka Penulis tadi malam sewaktu bangun dari tidur malam, Alhamdulillah membuka Kitab Suci AL Quran dan membaca Tema "Menginfakan Harta di Jalan ALLAH yang terdapat dalam  : Surat Al Baqarah surat 2 ayat 261,  ALLAH memberi perumpamaan.

Terjemahan : 261 
Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya dijalan ALLAH seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 (tujuh) tangkai, pada setiap tangkai ada 100 (seratus) biji. ALLAH melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki. Dan ALLAH Maha Luas dan Maha Mengetahui.  
Kita dapat amati bahwa ALLAH didalam menerangkan hikmah dalam Kitab Suci AL Quran seringkali memberikan perumpamaan dengan sesuatu yang diciptakan oleh ALLAH, dimana  dalam perbuatan orang yang melaksanakan infak atas harta kita dijalan ALLAH, ALLAH memberikan perumpamaan dengan tumbuhan ciptaan ALLAH, yaitu seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 (tujuh) tangkai,  dimana setiap tangkai ada 100 ( Seratus) biji. 

Dengan menggunakan akal kita (dimana akal kita adalah diciptakan dan diberikan oleh ALLAH kepada setiap orang yang diciptakan oleh ALLAH), maka didalam membaca perumpamaaan yang diberikan oleh ALLAH,  dalam Surat Al Baqarah ayat 261 Kitab Suci AL Quran,  maka kita dapat memperoleh gambaran bahwa :
Setiap perbuatan amal saleh yang dilakukan oleh orang berupa tindakan "menginfakan harta" yang dikaruniakan oleh ALLAH kepada kita, dijalan ALLAH, maka ALLAH akan melipatkan pemberian obyek infak kita dengan perumpamaan sebutir biji, yang menumbuhkan 7 (tujuh) Tangkai.
Setiap tangkai ada 100 (seratus) biji,  sehingga 7 (tujuh) tangkai dikalikan dengan 100 (seratus) akan  menjadi 700 (Tujuh ratus)  Biji.  

Maka  ALLAH melipat gandakan infak kita dengan 700 (Tujuh ratus) kali lipat bagi siapa yang dikehendaki oleh ALLAH. Dan ALLAH Maha Luas dan Maha Mengetahui. 
Kita sebagai orang yang beriman, haruslah yakin dengan firman ALLAH diatas,  kita  sangat tercerahkan,  dimana ALAH meminta kita untuk "tidak boleh ragu-ragu" dengan firman ALLAH. 
  • KITAB  SUCI  AL QURAN  TIDAK ADA KERAGUAN MERUPAKAN  PETUNJUK  BAGI   ORANG  YANG  BERTAQWA 
Kitab Suci Al Quran ini "tidak ada keraguan" padanya merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada :
(a) yang gaib,
(b) melaksanakan sholat, dan
(c) "menginfakan sebagian rejeki" yang Kami berikan kepada mereka,
(d)  beriman kepada (AL Quran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau {catatan kaki : yang turunkan kepada nabi-nabi sebelum  Nabi Muhammad S.A.W., ialah Taurat, Zabur, Injil dan suhuf-suhuf (lembaran-lembaran yang tidak seperti kitab} dan
(e) mereka yakin akan hari akhirat.  
...merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah oang yang beruntung. 
Karena Penulis berprofesi sebagai "Business Lawyer", Penulis terbiasa mengacu pada dasar hukum, didalam membuat pandangan hukum, advis hukum, membuat perjanjian /kontrak, maupun membuat artikel hukum.

Dengan dasar latar belakang ini, maka  terkait membaca Firman  ALLAH dalam Kitab Suci AL Quran, maupun  untuk mengetahui suatu tema atau peristiwa, yang terkait  dengan ilmu agama islam,  tentunya Penulis,   akan mengacu kepada Surat dan ayat yang terdapat dalam Kitab Suci AL Quran, maupun Hadist  sebagai Sumber informasi ilmu agama islam. 
Sehubungan dengan hal ini,  Penulis merasakan sekali ada "perbedaan yang sangat mendasar" antara Sumber Hukum buatan manusia yang dapat berupa Undang-undang (produk Politik Eksekutif - Penguasa dan DPR /Parlemen) atau adat kebiasaan - yang  merupakan dasar hukum buatan manusia,  dibandingkan dengan Kitab Suci Al Quran.
Kita sebagai orang beriman dari kaum Muslim / Islam, diberitahukan oleh ALLAH dalam beberapa Surat dan ayat dalam Kitab Suci AL Quran, bahwa   :
Kitab Suci AL Quran adalah merupakan "Wahyu langsung" dari ALLAH yang "sama sekali TIDAK ADA  campur tangan dan intervensi atau editan" dari manusia atas Kitab Suci dari ALLAH tersebut. 
Maka kita sebagai penganut Muslim yang beriman,  diberitahukan oleh ALLAH maupun sabda dari Rasul Muhammad S.A.W.  bahwa : 
semua isi Kitab Suci AL Quran ini,  adalah merupakan Wahyu,yang disampaikan oleh ALLAH melalui Malaikat Djibril  kepada Rasul /Nabi Muhammad S.A.W., sebagaimana seringkali di acu dalam Kitab Suci Al Quran maupun Hadist dari Rasul / Nabi Muhammad S.A.W.  dimana Wahyu dari ALLAH dalam Kitab Suci AL Quran  sama sekali bukanlah perkataan atau ucapan dari Nabi Muhammad S.A.W. 
Maka berangkat dari konsep keimanan - keyakinan diatas,  kita sebagai orang muslim harus berusaha secara istiqomah - tekun, teguh, konsisten  bertaqwa dan beriman, dengan memaksakan diri kita untuk mau membaca isi Kitab Suci AL Quran, serta Hadist Nabi Muhammad S.A. W. dan  mendengarkan tausyiah / ceramah dari Para Ustadz. 

Terkait hal ini didalam Era Informasi saat ini,  kita bisa banyak mendapatkan data dari Website maupun You Tube dari Para Ustadz maupun penulisan terkait ilmu agama di Website atau Blog. 

Sesuai Firman ALLAH di  Surat Al Baqarah Surat 2 ayat 1, 2, 3 ,4 dan 5 sebagaimana diacu diatas, maka kita kaum beriman penganut Muslim, "harus yakin beriman dan percaya tanpa-ragu-ragu" bahwa Kitab Suci AL Quran adalah Kitab Wahyu  dari ALLAH, yang diturunkan kepada Rasul / Nabi Muhammad S.A.W, melalui malaikat Djibril,   dan harus beriman kepada Kitab-Kitab Suci terdahulu yang diturunkan oleh ALLAH berupa Wahyu yang diturunkan kepada Para  Nabi/Rasul sebelum Nabi Muhammad S.A.W.

  • KONSEP AQIDAH KETAUHIDAN - MONOTEISME
Kitab - kitab Suci ALLAH, yang diturunkan ALLAH kepada para Rasul /Nabi pada Pokoknya berisi "Aqidah Ketauhidan - Monotheism", untuk beriman dan hanya menyembah dan mengabdi kepada "ALLAH Yang Maha Esa", dimana :
ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepada-NYA segala sesuatu,
ALLAH tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan ALLAH sesuai dengan Surat Ikhlas (Memurnikan Ke-Esaan ALLAH) Surat ke 112 - Turun di Mekah - Makiyah - 4 ayat.  
Ke-esaan ALLAH ini haruslah disampaikan dan didawahkan oleh Para Rasul/Nabi kepada umatnya, dimana Rasul Nabi Muhammad S.A.W adalah merupakan Rasul /Nabi penutup di akhir zaman ini, dari Para Rasul/ Nabi sebelumnya.
Konsep menyerahkan diri kepada ALLAH Yang Maha Esa (Islam /Muslim) adalah Konsep Ketauhidan - Monotheism dari seluruh Rasul dan Nabi yang diutus oleh ALLAH kedunia ini.
Kita ketahui, bahwa dalam perjalanan waktu, Nabi Ibrahim sebagai Pelopor Ke-Tauhidan - Monotheisme  diutus oleh ALLAH kepada Raja Namrudz di Babilonia pada sekitar tahun 2200 Sebelum Masehi ("SM") (Foot Note: Wikipedia), dimana Namrudz yang diberikan kerajaan oleh ALLAH ternyata menjadi sombong,  bahkan telah menuhankan dirinya sendiri seperti Firaun;
Terkait dengan Firaun, kita mengetahui bahwa ALLAH mengutus Rasul Musa  dan Nabi  Harun untuk mengingatkan dan berdakwah kepada Firaun, dimana Firaun juga mengklaim dirinya sebagai tuhan.

Rasul /Nabi Musa . hidup pada sekitar tahun 1527 - 1407 Sebelum Masehi, dan Musa diangkat sebagai Rasul oleh ALLAH sekitar tahun 1450 Sebelum Masehi, sesuai data yang Penulis peroleh dari   Referensi   https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/06/28/pb0y9p313-pengukuhan-kerasulan-musa-as    
Pada masa Raja Namrud di Babilonia, banyak berhala yang disembah termasuk oleh Ayah (atau Paman) dari Ibrahim, dimana :
Nabi Ibrahim inilah yang diutus oleh ALLAH menjadi Rasul untuk mendawahkan Ketauhidan - Monotheism, kepada Raja Namrudz dan pengikutnya  untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada ALLAH, tiada tuhan melainkan ALLAH. 
(Catatan dari Foot Note: Wikipedia) kita dapat data bahwa Namrudz adalah keturunan ke-5 dari Nuh. Silsilah lengkapnya adalah Namrudz bin Kanʻān bin Kush bin Ham bin Nuh ).Selanjutnya kita dapat data dari Fote Note ini bahwa : 
  • Nuh adalah seorang rasul yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Qur'an. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.
Dalam Kitab Suci AL Quran Surat ke 71 ALLAH menurunkan Surat Nuh yang terdiri dari  28 ayat. Penulis Copy CUT  PASTE - Salin" dari https://tafsirweb.com/37317-surat-nuh.html
 إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ Arab-Latin: innā arsalnā nụhan ilā qaumihī an anżir qaumaka ming qabli ay ya`tiyahum ‘ażābun alīm
Terjemahan Arti:  1.  Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”,
قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn  
2.  Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
 أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ ani’budullāha wattaqụhu wa aṭī’ụn  
3.  (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, 
Referensi: https://tafsirweb.com/37317-surat-nuh.html
"Selesai SALIN"

Pada masa Nabi Nuh, masyarakatnya berlaku syirik dengan menyembah berhala bernama Wadd, Suwwa, Yaghuts, ya'uq dan nasr sesuai surat Nuh ayat 23 Al Quran.

"Mulai SALIN"
wa qālụ lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā’aw wa lā yagụṡa wa ya’ụqa wa nasrā  
23.  Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.
Penulis "menyalin  Copy Cut Paste - Mulai SALIN " Tafsiran Al - Mukhtashar /Markaz Tafsir Riyadh dibawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah Bin Humaid ( Imam Masjidil Haram dari Referensi Website dibawah ini :  

"Mulai Salin - Copy Cut Paste" : 


23. وَقَالُوا۟ (Dan mereka berkata) Yakni para pemimpin berkata kepada para pengikut mereka untuk memperdaya mereka agar menyelisihi Nuh. لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ(Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu) Yakni janganlah kalian meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kalian, yaitu patung-patung dan gambar-gambar yang mereka miliki, yang kemudian disembah oleh orang-orang Arab setelah mereka. وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا(dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr)

TAFSIRANNYA :
Yakni janganlah berhenti menyembah patung-patung ini. Ini merupakan nama-nama orang shalih yang hidup pada rentang zaman antara Nabi Adam dan Nabi Nuh, namun kemudian kaum Nabi Nuh membuat patung mereka di tempat-tempat ibadah mereka. Kemudian datang generasi setelah mereka, dan Iblis membisikkan kepada mereka: “orang-orang sebelum kalian dahulu menyembah patung-patung ini, maka sembahlah ia.” Maka mereka menyembahnya; sehingga itulah pertama kali terjadi penyembahan berhala. Lalu patung-patung itu sampai di jazirah Arab dan disembah oleh sebagian kabilah.
"SELESAI SALIN - Copy Cut Paste"

Komentar Penulis terkait data mengenai Nabi Nuh diatas :  
Berdasarkan data diatas, maka terlihat pada Era Nabi Nuh, yang menjadi Nabi sekitar tahun 3650 Sebelum Masehi, ternyata masyarakatnya banyak yang syirik menyembah penyembahan tuhan selain ALLAH, dan tidak mau mengikuti dakwah dari Rasul Nuh.  Menurut ajaran Islam, Nabi Nuh  adalah 10 generasi setelah Nabi Adam. 
Kembali Ke Pembahasan Rasul Ibrahim : 

Dari Silsilah Nabi maka kita dapat ketahui bahwa :  Nabi Ibrahim, menurunkan 2 (dua)  garis keturunan silsilah para Rasul dan Nabi yaitu
(a) dari Nabi Ishak anaknya Nabi Ibrahim dari Sarah isteri Rasul Ibrahim yang pada jalurnya menurunkan garis keturunan para Nabi hingga Nabi Isa (600 Tahun sebelum Nabi Muhammad S.A.W.)  dan
(b) dari Nabi Ismail anaknya Nabi Ibrahim dari Siti Hajar, yang  pada jalur turunannya menurunkan Rasul /Nabi Muhammad S.A.W. sebagai Rasul Nabi Penutup diakhir zaman ini.         
Penulis yang berlatar belakang praktek sebagai  Business Lawyer lebih dari 30 Tahun semenjak tahun  1979/1980 dan sebelumnya Syukur Alhamdulillah telah  mengecap pendidikan Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Tahun 1973-1979/1980), tentunya terdidik untuk berusaha mencari "Kebenaran Dasar Hukum". 
Terkait Ilmu Agama, Penulis berusaha  mencari Kebenaran atas Sumber ajaran Ketauhidan - Monotheism, dimana karena banyak nama - nama Para Rasulnya/ Nabinya  dari Penganut Agama Yahudi maupun Nasrani, maupun Islam "yang sama"  antara lain Nabi Nuh, Rasul Ibrahim,  Ismail Ishak, Ismail,  Daud, Sulaiman, Yusuf, Yunus, Isa.    
Maka  jika pada "Fakta Kenyataan" terdapat atau terjadi "Adanya Perbedaan Konsep Mengenai Ketauhidan - Monotheisme" apalagi "hal yang sangat Penting dan Signifikan" bahwa :
ALLAH Maha Esa, ALLAH tidak beranak dan tidak diperanakan, tentunya dengan jarak tenggang waktu yang sangat jauh antara Rasul /Nabi Ibrahim yang diutus oleh ALLAH pada tahun sekitar Tahun 2200 Sebelum Masehi, Rasul /Nabi Isa Putera Maryam (600 tahun sebelum Nabi Muhammad diutus), nampaknya terjadi penyimpangan atas Kebenaran Ajaran Ketahuidan Monotheism oleh umat atau pengikut  dari Para Rasul dan Nabi  tersebut.
Maka untuk dapat mengetahui lebih dalam Ilmu Ketauhidan - Monotheism, nampaknya "kita tidak bisa terhindar" untuk berusaha mencari "Data Perbandingan Keyakinan ini" dari "Para Ahli Agama", yang mempunyai "Kekhususan" /  "Spesialisasi Perbandingan Agama".
Dari data di Website dan Medsos, dapat kita amati bahwa  dalam perjalanan pencarian "Kebenaran Hakiki Ketauhidan Monotheism" melalui Perbandingan Agama ini, banyak diantara mereka, dengan membaca segala Kitab Agama termasuk Kitab Suci Alquran, pada akhirnya telah menemukan atau mendapatkan Hidayah dan Petunjuk dari ALLAH bahwa semua Para Rasul dan Nabi telah diutus oleh ALLAH untuk mendakwakan bahwa Tidak ada Ilah selain ALLAH, dan hanya kepada ALLAH. manusia itu harus mengabid dan menyembah, dimana Para Utusan Nabi dan Rasul semuanya hanya Rausl/Nabi atau utusan dari ALLAH,  termasuk Rsaul Nabi Isa.  
Dalam Era Informasi tanpa batas pada saat ini, kita bisa temukan banyak sumber-sumber Tausyiah di  You Tube yang menyajikan "Tema Perbandingan Agama" ini. 
Hal ini,  memang dirasakan hal "sangat sensitif", namun dari Perspektif Agama, adalah sangat penting untuk mencari "Kebenaran HAKIKI Jalan Yang Lurus - "Shirotol Mustaqim",  terkait  dengan Konsep Ke-Tauhidan - Monotheisme, yang diminta oleh ALLAH untuk didakwahkan oleh Para Rasul kepada Para Umatnya, guna  : 
jangan sampai kita "salah menyembah ALLAH" dengan sesuatu selain dari ALLAH, sebagaimana  diajarkan oleh Para Rasul /Nabi baik sebelum Rasul /Nabi Muhammad S.A.W  maupun setelah diutusnya Rasul /Nabi penutup di Akhir Zaman ini.
Hal ini adalah sangat penting, karena  jika kita "salah beriman" dengan Menyembah tuhan selain ALLAH, maka secara Konsep Ketauhidan - Monotheism, kita dapat  jatuh masuk pada  golongan Musyrikin atau  Syirik, dimana ALLAH akan mengampuni dosa dari manusia, selain orang  yang Syirik, atau menyembah tuhan selain ALLAH sesuai Surat An Nisa ayat 68 .
"Copy Cut Paste atau Mulai Salin" dari :

Di antara bahaya kesyirikan yang membuatnya menjadi perkara paling berbahaya bagi setiap manusia, adalah bahwa orang yang meninggal dalam keadaan membawa dosa selain syirik maka bisa jadi Allah adzab atau bisa jadi Allah ampuni.
Adapun dosa syirik, maka tidak Allah ampuni. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An Nisa: 48)
 "Selesai Salin"
Maka guna meluruskan Aqidah Keimanan ini,  tentunya kita harus mengandalkan kepada "Niat Kita yang Bersih Murni" dan sungguh-sungguh  untuk mencari Kebenaran Ketauhidan - Monotheisme  ini, semata-mata karena ALLAH Yang Maha Esa. 
Maka kita wajib  berusaha mempelajari Ilmu Agama, dan tidak hanya mengandalkan kepada Agama Keturunan atau KTP, melainkan harus mempelajari Ilmu Agama khususnya Mencari Kebenaran Hakiki Aqidah Keyakinan  Ketauhidan - Monotheism
Tentunya usaha ada di manusia namun Petunjuk dan Hidayah adalah Kehendak dari ALLAH Yang Maha Memberi Petunjuk dan Hidayah.     
Memang sesuai Firman ALLAH dalam Surat Al Baqarah ayat 272 Petunjuk atau Hidayah itu datangnya dari ALLAH.

Adapun Para  Rasul / Nabi termasuk Rasul/Nabi Muhammad S.A.W diutus oleh ALLAH untuk memberikan mendawahkan peringatan dan kabar gembira berupa Petunjuk  dan Cahaya dari ALLAH dalam Kitab Suci Taurat, Injil dan terakhir Kita Suci Al Quran maupun Sunnah /Hadist Rasul/Nabi Muhammad S.A.W.
Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetap ALLAH-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki NYA  
Kita sebagai umat islam, diminta oleh Rasul untuk menyampaikan atau berdakwah atas ayat ALLAH kepada sesama manusia meskipun hanya satu ayat....
  • STATUS DAN KEDUDUKAN NABI ISA DALAM KITAB SUCI AL QURAN.
Terkait  Penjelasan ALLAH mengenai status dari Nabi ISA, maka  dalam Kitab Suci Al Quran kita dapat temukan beberapa ayat yang menerangkan Status Nabi Isa antara lain sebagai berikut :

     Surat AL Maidah ayat 75 

Copy Cut Paste Mulai Salin 
75.[4] Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran, keduanya biasa memakan makanan[5]. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (yang menunjukkan keesaan Kami) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). 
  Surat Al Maidah 5 ayat 116 
Terjemahan : 

"Mulai Salin"  
116,  Dan (ingatlah) ketika ALLAH berfirman : 
Hai Isa Putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia : " Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain ALLAH?" Isa menjawab : "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan -nya maka tentunya Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa  yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. 
117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya yaitu : "Sembahlah ALLAH Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.  
118. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau yang Maha  Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 "Selesai Salin" 
Bahkan dalam AL Quran, Surat Al Maidah (Hidangan) ayat 72 ,  ALLAH mewahyukan  :

Terjemahannya :
Mulai Salin :
   72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya ALLAH  adalah Al Masih Putera Maryam, padahal Al Masih (sendiri) berkata: :"Hai Bani Israel Sembahlah ALLAH Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka pasti ALLAH mengharamkan  kepadanya Surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi .orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
"Selesai SALIN"

Demikianlah sementara tulisan dari Penulis di siang hari ini yang diedit pada malam hari serta diedit lagi tanggal 30 April 2020.

Jakarta, 31 Agustus 2019  terkahir diedit 30 April 2020.
Agung Supomo Suleiman

Friday, August 23, 2019

IBADAH HARUS BERDASARKAN ILMU

Penulis mengamati di Medsos terjadi banyak kerancuan atau kehebohan mengenai hal terkait Etnis dan Keyakinan baik di Amerika saat ini maupun di belahan bumi lainnya termasuk di tanah air kita. Jika kita telusuri dari segi "Ilmu Keagamaan", khususnya dari sisi Islam,  maka sesuai kepercayaan dasar Ketauhidan, kita sebagai penganut Islam,  harus benar "mau mendalami Ilmu Ketauhidan atau Monotheisme", sehingga "Ibadah harus berdasarkan Ilmu".  
Maka,  sebagai konsekwensi bahwa "Tidak ada Tuhan selain ALLAH", maka semua / segala sesuatu apapun itu yang berada diluar "diri ALLAH" adalah sebagai "Ciptaan dari ALLAH Yang Maha Pencipta",  termasuk keaneka beragaman Etnis / Suku /Bangsa/ Warna Kulit,  yang memang diciptakan oleh ALLAH,  sesuai Surat Rum dari Kitab Suci Al Quran ayat 22, dan Surat Hujurat ayat 13 dari Kitab Suci Al Quran,  dimana ALLAH berfirman :  

AL Quran Surat Ar Rum ayat 22

terjemahannya :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Al Quran Surat Hujurat ayat 13

Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah "orang yang paling takwa" diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Selesai Copy Cut Paste - Selesai Salin 

Dengan demikian segala jenis bangsa dan suku-suku/ warna kulit manusia yang ada didunia yang dihuni oleh manusia,  semua adalah diciptakan oleh ALLAH supaya kita saling mengenal, dimana hal ini menunjukan tanda-tanda kekuasaan ALLAH bagi orang-orang yang mengetahui sesuai firman ALLAH diatas. 

Kita dapat amati bahwa segala macam etnis dan suku serta warna kulit yang diciptakan oleh ALLAH ini,  juga merupakan "cobaan" bagi manusia, karena jika suatu etnis atau suku merasa dirinya adalah paling hebat, paling tinggi kedudukan, budaya tingkat  peradaban maupun intelektualnya serta materinya,  maka biasanya "kesombongan" muncul dari suku atau bangsa/warna kulit  tersebut;
 Dari perspektif agama Islam, kita dapat melihat dari Sumber AL Quran dan Hadist, bahwa jika ada suku / bangsa / etnis  yang merasa lebih dari yang lain, maka mereka ini   akan merasa "iri dan dengki",  jika, dalam perspektif Keimanan dan Keyakinan, misalnya,  ternyata Rasul yang diharapkan diturunkan dari ALLAH, pada masa tertentu,   berasal dari Suku diluar sukunya sendiri,  seperti yang terjadi pada masa dimana Bani Israil mengharapkan adanya Rasul yang turun, semasa kebesaran persaingan pengaruh antara "Bangsa Romawi dan Persia"  sedang saling merasa lebih berkuasa pada zamannya, dimana ternyata Rasul yang diutus ALLAH diakhir zaman,  berasal dari "Suku Arab" dan bukan dari "suku Bani Israel". sehingga Rasul Muhammad S.A.W. tidak diakui oleh orang Yahudi yang berasal dari suku Bani Israel maupun kaum Nasrani /Nasarah yang berasal bukan dari Etnis Arab. 
Maka terlihat bahwa Etnis /Suku/Bangsa dikaitkan dengan keyakinan atau diutusnya Rasul Muhammad sebagai penerus dan penutup dari Para Rasul, akan berpengaruh pada fakta kenyataan "tidak diakuinya" Rasul Muhammad S.A.W. oleh Etnis Bani Israel,  padahal pendeta dari Ahli Kitab bernama Waraqah Bin Naufal yang mengetahui "tanda-tanda kerasulan" membenarkan bahwa Rasul Muhammad S.A.W adalah Rasul yang tersebut dalam Kitab Suci asli yang ada pada Ahli Kitab yang  diturunkan ALLAH kepada Nabi Musa,  alaisalam maupun kepada Nabi Isa alaisalam, dimana menurut Kitab Suci Al Quran para  Ahli Kitab telah mengenal Rasul Muhammad sebagaimana mereka  mengenal anak-anak mereka  sendiri.
Kitab Suci Al Quran Surat Al Baqarah Surat  2 ayat 146 
Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ ءَاتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
 terjemahannya :

"Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.Sesungguhnya sebahagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).  

Demikianlah, maka kita bisa amati bahwa, baik (i) Rasul yang merupakan utusan yang ditunjuk ALLAH untuk menyampaikan Risalah dari ALLAH yang mengajarkan Ketahuidan - Monotheisme, maupun (ii)  Etnis Suku dan Bangsa/warna kulit, adalah  diciptakan oleh ALLAH Yang Maha Pencipta. 

Maka Pokok Dasar ajaran Aqidah atau Keyakinan Keimanan yang disampaikan oleh ALLAH melalui para Rasul dan Nabi yang merupakan semua para utusan dari ALLAH, adalah mengajarkan Ketauhidan atau pengajaran kepada manusia "Untuk Hanya  Menyembah/Mengabdi   kepada ALLAH Yang Maha Tunggal", dimana Tidak ada Tuhan selain ALLAH dan Para Rasul adalah Rasul Utusan ALLAH untuk mengajarkan Ketauhidan atau penyerahan diri hanya kepada ALLAH (dimana "penyerahan diri kepada ALLAH" ini disebut "Islam".

Pokok dasar dari Ketauhidan adalah Pokok atau Tiang Fondasi dari Keimanan, dimana "ALLAH" adalah Maha Tunggal dan tidak ada yang menyamai  ALLAH ini. Hal ini telah dirintis oleh Rasul Ibrahim yang berhadapan dengan ayahnya sendiri yang menyembah berhala - patung sebagaimana diceritakan oleh ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran. Rasul Ibrahim diutus oleh ALLAH untuk memberi peringatan kepada Raja Namrudz di Kota Babiloniahttps://solusinews.blogspot.com/2014/07/raja-namrud-keturunan-nuh-raksasa_21.html yang pada masa itu masyarakatnya menyembah berhala dan patung yang dituhankan. Ayahnya Ibrahim bernama Aazar adalah juga pembuat berhala dan patung tersebut dimana Ibrahim juga diminta untuk berjualan berhala dan patung tersebut, namun Ibrahim sewaktu menjual patung tersebut menjual dengan mengatakan siapa yang mau membeli patung atau berhala yang tidak berguna ini. 
Menurut sebagian riwayat, kisah perdebatan antara Rasul Ibrahim dan Raja Namrudz adalah sebagaimana Firman ALLAH dalam Surat Al Baqarah ayat 258 :
terjemahannya :
Tidaklah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya           (ALLAH), karena ALLAH telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata : "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan."dia berkata :Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata : ALLAH menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat. "Maka bingunglah orang yang kafir itu. ALLAH tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.     

(Foot Note : keterangan mengenai Nimrod - Namrudz  bisa ditemukan di https://id.wikipedia.org/wiki/Nimrod
Nimrod - Namrudz)
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian
Sebagaimana kita ketahui dalam pencarian kebenaran akan adanya ALLAH, maka Nabi Ibrahim merenung dan mencari zat atau elemen  apa didunia ini yang patut disembah oleh Ibrahim. Pengamatan Nabi Ibrahim, mulai dari Bintang, Bulan, Matahari  namun ternyata benda tersebut pada pergantian siang dan malam bisa saling meniadakan penampakannya Surat 6 Al An A'AAM (Binatang ternak  Al Quran ayat 76, 77, 78. 


Pada akhirnya ALLAH memberikan petunjuk kepada Nabi Ibrahim bahwa ALLAH adalah tuhan sebenarnya yang menciptakan langit dan bumi (Surat Al An A'AAM ayat 80), dan ALLAH telah memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi supaya Rasul Ibrahim termasuk orang yang yakin (Surat Al An'AAM ayat 75). Dalam perjalanan pencarian kebenaran siapa yang patut disembah, maka setelah Nabi Ibrahim mendapatkan petunjuk ilmu dari ALLAH,  maka Rasul Ibrahim bahkan telah dengan tegas menghancurkan beberapa berhala yang disembah oleh ayahnya dan pengikut penyembah berhala dengan kampak, dimana disisakan "berhala yang paling besar" dengan meninggalkan kapak yang dikalungkan dileher dan kepala berhala paling besar tersebut, pada suatu hari raya dimana penduduknya sedang tidak berada di tempat berhala dan patung itu berada. Ayahnya Ibrahim ( ada juga yang menyebut Pamannya Rasul Ibrahim) yaitu Azar bertanya kepada masyarakat disana :
 Siapakah yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, dimana pengikut ayahnya Ibrahim menunjuk kepada Ibrahim, dan Ibrahim bilang bahwa yang mengahncurkan adalah Berhala /Patung yang terbesar dan Ibrahim meminta mereka untuk bertanya kepada  "berhala patung yang paling besar", dimana ayahnya dan kaumnya berkata berhala/patung tersebut tidak bisa bicara, makanya Ibrahim balas menjawab :  Kenapa berhala yang tidak bisa bicara disembah? Namun reaksi dari Namrud  maupun ayahnya, "bukannya sadar"  malah bertambah marah besar,  dimana para pengikut ayahnya para penyembah berhala "mengumpulkan kayu bakar" untuk membakar Rasul Ibrahim,  sesuai perintah dari ayahnya Ibrahim maupun putusan dari pengadilan yang menyidangkan Ibrahim dimasa itu. 
Penulis membayangkan jika Rasul Ibrahim melakukan di "Era sekarang", maka Rasul Ibrahim akan disebut sebagai "Radikal", karena berani menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayahnya Ibrahim yaitu Azar serta pengikut penyembah berhala, dan tidak mau toleransi atau menghormati berhala-berhala yang disembah oleh para penyembah berhala tersebut.    
Kita mengetahui bahwa dalam dakwahnya, Rasul Ibrahim telah mengambil risiko untuk bersedia dibakar oleh ayahnya sendiri, namun oleh ALLAH dalam kapasitas sebagai tuhan yang benar dan bukan tuhan palsu, telah membuat "api tersebut dijadikan  dingin" khusus terhadap Rasul Ibrahim,  sehingga Rasul Ibrahim selamat. Maka terlihat dalam Kitab Suci AL Quran bahwa Rasul /Nabi  Ibrahim adalah Rasul Pionir Ketauhidan - Monotheisme, setelah ayah dan kaum dari ayahnya sesat menjadi musyrik dengan menyembah berbagai berhala yang dihancurkan oleh Rasul Ibrahim. Kisah lengkapnya Rasul Ibrahim dapat dilihat dalam AL Quran antara lain pada Surah Al An'Am ayat 74-83, Al Anbiya ayat 51 - 70, Al Baqarah ayat 124 dan 258, As Syuara ayat 69 -89, Ibrahim ayat 35 - 41 dan Hud ayat 69-76.    
Berdasarkan hal diatas, maka guna dapat mengenal ALLAH,  maka tentunya kita sebagai Umat Muslim harus melihat dan mempelajari dari "Ilmu" pengenalan Zat ALLAH yang disampaikan oleh ALLAH melalui Kitab Suci AL Quran sebagai Kitab Suci terakhir setelah Kitab Suci Taurat, Kitab Suci Injil maupun Kitab Suci Zabur.
Kita sebagai umat Islam diharuskan untuk meyakini ALLAH Yang Maha Esa, Para Rasul dan Nabi terdahulu dari Rasul Muhammad S.A.W. serta Kitab Suci yang tidak boleh ada campur tangan atau intervensi dari manusia melainkan Wahyu dari ALLAH S.W.T. sebagaimana tersebut dalam Surat Al Baqarah. 
Memang Keimanan ini merupakan Hidayah dan Petunjuk dari ALLAH, yang sangat berharga dan tak ternilai,  dimana secara logika berpikir karena Para Rasul  adalah sama-sama merupakan utusan ALLAH,  yaitu antara lain Rasul Ibrahim, Ismail, Ishak, Yacob, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa putra Maryam, Rasul /Nabi Penutup yaitu Muhammad S.A.W. maka tentunya "Konsep Ketauhidan atau Monotheism atau pengajaran Hanya Menyembah kepada ALLAH Yang Maha Tunggal, adalah sama, yaitu Katakanlah "Dialah ALLAH Yang Maha Esa, ALLAH  adalah tempat bergantung kepada NYA segala sesuatu, ALLAH tiada  beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seseorangpun yang setara dengan DIA, sesuai dengan Surat Al Akhlas surat ke 112 dari Kitab Suci AL Quran.    

Maka kita sebagai manusia hanya diperbolehkan untuk menyembah dan mengabdi (worship) hanyalah kepada ALLAH Yang Maha Esa dan tidak boleh kepada sesuatu zat selain ALLAH.  Konsep dalam Islam mengenai Ketauhidan - Monotheisme ini haruslah kita pelajari dari "Ilmu" yang berasal dari ALLAH serta keterangan dari Rasul /Nabi dan tidak boleh dikarang-karang sendiri, dimana untuk umat Islam acuannya adalah Kitab Suci AL Quran. 
Kita sebagai Umat Islam juga harus mempercayai Ghaib sesuai dengan Firman ALLAH dalam Kitab Suci AL Quran, dimana Ghaib ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita melihat dengan mata Phisik, karena Phisik adalah dibatasi dengan Dimensi Ruangan Tempat dan Waktu. 
Adapun hal yang Ghaib seperti Malaikat, Setan, Iblis,  Jin adalah mahkluk ciptaan ALLAH yang harus kita yakini ada namun tidak dapat kita lihat dengan mata phisik kita. Keterangan mengenai Malaikat, Setan, Iblis dan Jin yang tidak terlihat oleh mata, hanyalah bisa diperoleh informasiya dari Kitab Suci Al Quran maupun keterangan dari Rasul Muhammad S.A.W dan tidak bisa kita karang-karang sendiri.
Begitu juga mengenai alam roh serta alam sebelum kita berada didunia phisik ini, serta alam kubur maupun alam Akhirat, haruslah bersumber dari Wahyu ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran maupun Hadist Sunnah Nabi Muhammad SA.W dan tidak bisa se - enaknya kita karang-karang sendiri.

Begitu juga Ayat Suci dalam  Kitab Suci ALLAH yang merupakan Firman dan Wahyu ALLAH tidak boleh dikarang-karang oleh manusia melainkan harus berdasarkan Wahyu dari ALLAH. Jika ada karangan manusia,  namun kalangan atau golongan manusia yang mengarang ajaran tersebut menyatakan bahwa tulisan ataupun karangan yang dia buat oleh tangannya sendiri,  merupakan wahyu ALLAH, maka dalam Kitab Suci Al Quran ALLAH berfirman bahwa : manusia yang mengarang-ngarang dengan tangannya sendiri dan menyatakan karangan itu merupakan wahyu dari ALLAH, maka ALLAH dan kaum beriman akan melaknat manusia yang membuat karangan bohong tersebut.   
    Begitu juga jika ada Wahyu dari ALLAH yang pernah diturunkan oleh ALLAH kepada Para Rasul,  namun disembunyikan oleh suatu umat, karena satu dan lain alasan hawa nafsu misalnya karena rasa dengki dan iri, disebabkan ternyata Wahyu dari ALLAH  mengenai adanya Rasul Penutup yang berupa utusan dari ALLAH  - berasal dari Etnis Arab dan bukan Etnis Bani Israel, padahal,  sesuai Kitab Suci AL Quran, difirmankan oleh ALLAH bahwa :  Nabi Ibrahim (etnis Bani Israel) bersama dengan anaknya Ismail (yang merupakan campuran Etnis Bani Israel dan Ethopia) sewaktu meninggikan Rumah ALLAH - Kabah, dimana Nabi Ibrahim  berdoa kepada ALLAH agar kepada kaum di Mekah diturunkan Rasul dari kaum Mekah - Arab untuk menyampaikan Risalah ALLAH) - dimana doa Nabi Ibrahim ini menurut Firman ALLAH dalam Kitab Suci Al Quran,  dikabulkan oleh ALLAH dengan kelahiran Rasul Muhammad S.A.W. yang merupakan keturunan dari Rasul Ibrahim dari Jalur keturumurah meranan Nabi Ismail, maka "tindakan perbuatan menyembunyikan kebenaran wahyu ALLAH tersebut oleh Ahli Kitab",  adalah merupakan perbuatan yang sama sekali tidak diridhoi oleh ALLAH Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.
Dalam Surat Al Baqarah ayat 174 ALLAH berfirman :
terjemahannya :
Sungguh orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan ALLAH yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka kedalam perutnya, dan ALLAH tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang pedih,
 175 Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menantang api neraka.       
Sebagai efek selanjutnya maka tindakan menyembunyikan Wahyu ALLAH tersebut oleh para Ahli Kitab,  jelas akan merusak kontinuitas sistem informasi dan keyakinan akidah pada keturunan dari para umat yang kemudian.
Berdasarkan data diatas, maka Penulis merasakan bahwa kita sebagai umat yang beriman, haruslah mencoba untuk berusaha mencari kebenaran akan Siapa Zat ALLAH yang kita sembah dan kita abdi (worship), karena jarak antara Rasul / Nabi Isa dan Rasul Nabi Muhammad S.A.W. adalah sudah beratus-ratus tahun jaraknya lebih dari 600 tahun, sehingga kita sebagai orang yang beriman tidak boleh hanya menjadi Muslim KTP atau Muslim turunan, melainkan haruslah kita pelajari dari Sumber -Sumber yang mengajarkan kita keimanan Islam, dimana pada Era Modern sekarang ini banyak sekali sumber  informasi yang dapat memberikan pencerahan Keimanan kepada kita, karena "Ibadah tanpa Ilmu" adalah jelas tidak baik, dalam rangka kita meningkatkan kesadaran keimanan kita, tentunya dari Kitab Suci Al Quran, Sunnah Hadist  dan para Ahli Agama / Ulama  yang dapat memberikan Pencerahan kepada kita, agar hidup kita dapat terarah dunia dan akhirat. 

Mungkin sekian dahulu tulisan dari Penulis ini yang sangat jauh dari kesempurnaan, namun didasarkan pada rasa keinginan untuk menambah dan meningkatkan keimanan kita dengan dasar ilmu dan bukan semata-mata emosional dan perasaan atau menduga-duga

NIKMATNYA IMAN Headline Animator