Thursday, January 17, 2013

Makna Shahadat

Pada Hari Rabu 16 Januari 2013 aku menghadiri Kuliah Subuh yang disampaikan oleh Ustad Elfa di Mesjid Al Muhklisin di Kompleks Deplu Cipete; Temanya adalah Apa Arti atau Makna dari Shahadat; Ustad  Elfa menerangkan bahwa berdasarkan Hadist Imam Muslim, dimana  Umar Bin Khatab pernah bertanya kepada Nabi Muhammad masalah ini, dimana Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Khabir mi Aslam Nabi Muhammad menjawab Shahadat;


    Aku bersaksi tiada Tuhan Yang Disembah selain ALLAH dan aku  bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul ALLAH;

Jika kita mantap Shahadat, maka menurut Pak Elfa Iman yang no 2, 3, 4, dan 5 yaitu Sholat, Zakat, Puasa dan Haji akan mantap dan akan mudah mengerjakannya. Tiang Agama adalah Shahadat; Secara Bahasa Ijazah, atau Sertifikat dan Piagam sebagai Bukti Islam adalah mengucapkan kalimat Shahadat tadi. 
  • Bersaksi menurut Ustad Elfa adalah : "Pengakuan", Mengakui, Membenarkan Kebenarannya
Shahadat ada 2 unsur yaitu :
  • Nomor 1 adalah Pengakuan terhadap ALLAH yang wajib disembah, ini berarti mengakui kebenaran AL Quran, dan
  • Nomor 2 ) Pengakuan terhadap Nabi Muhammad S.A.W. sebagai Rasul dari ALLAH;
Menurut Ustad Elfa sejauh mana pengakuan tentang ALLAH akan terwujud jika kita bisa memahami Shahadat; Aku mengakui Pencipta Segala Sesuatu adalah ALLAH;
  • Ustad Elfa memberikan contoh : 
Karpet ini berasal dari apa ?  kapas;  Kita terus  bertanya lagi kapas dari apa jawabnnya dari Biji; Kemudian kita bertanya lagi biji ini dari mana siapa yang membuat biji ini, maka ujung2nya akan menuju kepada sebuah Zat  Pencipta dari biji tersebut yaitu ALLAH;
  • Tidak ada sesuatu yang dapat menyatakan atau mengklaim pencipta dari Biji ini kecuali ALLAH; 
Adapun kita sebagai manusia hanyalah bisa mampu merubah sesuatu yang ada dari biji kapas, kita tanam kemudian tumbuh kapas, dan kapas ini kita pintal menjadi benang, dan benang ini kita dapat membuat antara lain Karpet tadi, yang kita gunakan misalnya di Mesjid;

Didalam Ketauhidan ini menurut Ustad Elfa ada istilah Tauhid Rubuhiyah dan Tauhid Uliyah;

Kalau Tauhid Rubiah kita akan mendapatkan pengertian Rob : kita mengakui dan meyakini Kekuasaan dari Rob yang pada ujungnya akan menuju kepada pengertian Ke-Tauhidan Uluhiyah;

Kalau Ibrahim dalam kehidupannya mencari Rob yang mana yang pantas ia sembah, dimana semula dipikir matahari, bulan dan bintang namun karena semua ternyata bisa tidak kelihatan yaitu Matahari dikala malam sudah tidak kelihatan, begitu bulan dan bintang dikala siang hari juga tidak tampak, maka Ibrahim meneruskan pencarian siapa Rob atau  ALLAH  yang Maha Kuasa ini;
  • Karena kesungguhannya didalam mencari kebenaran yang Hakiki, maka Ibrahim pada akhirnya diberi petunjuk oleh ALLAH mengenai siapa sesungguhnya ALLAH dan Rob itu, yang memang mempunyai kapasitas penuh sebagai Rob yang dapat menciptakan segala sesuatu, sehingga mencapai pengertian dan petunjuk dari ALLAH atas Ketauhidan Uluhiyah
Adapun Ayah dari Ibrahim ini, hanya sampai kepada Tauhid Rubiyah, karena kalau ditanya oleh Ibrahim Siapakah yang membelah Berhala yang dibuat oleh Ayah Ibrahim (dimana yang membelah dan meninggalkan kampak pada Berhala tersebut adalah Ibrahim),  Ibrahim kembali meminta Ayah Ibrahim untuk menanyakan kepada Berhala, dimana ayah Ibrahim menyatakan bagaimana bisa Berhala menjawab,
sehingga  Ibrahim balik bertanya kenapa Ayahnya menyembah Berhala yang dibuatnya, padahal Berhala tidak mempunyai kapasitas kemampuan untuk menjawab;

Ayah Ibrahim menyatakan dia tunduk dan mengikuti kepada Nenek Moyangnya yang menyembah kepada Berhala tersebut, dimana Nenek Moyangnya adalah salah, karena Berhala tidak mampu menjawab dan melakukan tindakan apapun,  namun tetap saja  diikuti oleh Ayah Ibrahim didalam  menyembah Patung Berhala,  sehingga ke- Tauhidan dari ayah Ibrahim hanyalah sampai  kepada tahapan Tauhid Rububiah  dan tidak sampai kepada tahapan Tauhid Uliyah;       
  • Dengan penjelasan diatas, maka kita dapat melihat bahwa Makna Pertama yang penting kita simak adalah bahwa Tidak ada Pencipta selain ALLAH;
Ustad Elfa meminta kita untuk mengacu pada Surat 6 ayat 102 dari Kitab Suci Al-Quran
(Terjemahan Bahasa Indonesia)

  • Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-NYA (yang Dia sendirilah yang mengetahui), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit) 
Surat 40 ayat 62
Quote  /Dikutip
Yang demikian adalah ALLAH, Tuhanmu,  Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan DIA, maka bagaimankah kamu dapat dipalingkan.
Unquote /Selesai dikutip

Dengan demikian kita sebagai manusia hanyalah mampu merakit atau merubah  sesuatu dari sesuatu  yang telah ada yang telah diciptakan oleh ALLAH misalnya kapas diatas. 
Selanjutnya Ustad Elfa juga menegaskan bahwa tidak ada pemberi rejeki kepada kita selain hanya ALLAH. Kita sebagai manusia hanyalah berkewajiban untuk berusaha secara maksimal mungkin, dimana hasilnya yang menentukan adalah sepenuhnya ALLAH;

  • Surat 13 ayat 11 dari AL Quran menyebukan bahwa ......( terjemahan Bahasa Indonesia ) Sesungguhnya ALLAH tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri.  
Surat 11 ayat 6 : ( terjemahan Bahasa Indonesia)
Dan tidak ada suatu binatang melatapun dibumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezekinya.....

Surat 35 Fathir ayat 3 :

(Terjemahan Bahasa Indonesianya)

Hai manusia, ingatlah akan ni'mat ALLAH kepadamu.Adakah pencipta selain ALLAH yang dapat memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain DIA; maka mengapalah kamu berpaling (dari ke-tahuidan)   

Ustad Elfa menyatakan bahwa tempat rejeki kita sebagai manusia adalah di dunia; Maka kalau seseorang  meninggal dunia, hal ini juga karena rejekinya didunia juga sudah habis; Ustad Elfa memberi contoh dimana

  • ada seorang bapak selama 7 tahun dirawat dirumah sakit, dan dan jaga oleh isterinya dengan tekun dan dijenguk oleh anak2nya. Namun  setelah 7 tahun berjalan ternyata yang meninggal adalah isterinya dan bukan si Bapak itu; Menurut  Ustad Elfa ini juga disebabkan karena jatah rejeki untuk isterinya telah habis didunia; Sedangkan rejeki suaminya masih ada didunia;
Menurut Ustad Elfa Malaikat tidak mungkin salah cabut nyawa; Adapun di Akhirat kita mengambil simpanan kita, yaitu amal saleh kita misalnya atas harta yang telah kita sedekah dan nafkahkan dijalan ALLAH;
Ustad Elfa mencontohkan  ritual Sai  yang dilakukan oleh Siti Hajar Ibunya Nabi Ismail dari  Bukit Sofa ke Bukit Marwah 7 kali, pada saat zamannya Siti Hajar bukitnya tinggi dan ada lembah diantara kedua bukit itu;

  • Setelah Siti Maryam kehabisan tenaga setelah 7 kali mencari air dan makanan, Nabi Ismail yang masih kecil menendang kakinya ketanah, karena haus, dan munculah air yang kemudian dikumpulkan oleh Siti Hajar dengan Zam- zam atau artinya ngumpul2; 

Pertanyaan mendasar muncul :  kenapa Nabi Ismail tidak meninggal karena kehausan, jawabannya adalah karena rejeki untuk Nabi Ismail masih ada didunia setelah Siti Hajar berjuang dan berusaha sekeras dan semaksimal mungkin 7 kali bolak balik Bukit Sofa dan Bukit Marwah, kemudian Siti Hajar Tawaqal - Pasrah  kepada ALLAH, dimana hasil jerih payahnya Siti Hajar diberikan ALLAH minum mata air yang muncul  dikaki Nabi Ismail, sewaktu Bayi Ismail menendang airnya ke tanah,  yang pada saat itu masih bayi;
  • Makna yang dapat diambil adalah bahwa kita sebagai manusia harus berusaha terlbih dahulu dengan keras dahulu, dimana pada akhirnya setelah berjuang dan berikhtiar keras, barulah kita bertawakal dan mohon serta pasrah kepada ALLAH ;
Hal ini kita sebagai manusia akan seringkali merasakan kebenarannya dalam kehidupan nyata kita sehari2, dimana setelah kita berusaha keras, dalam mencari nafkah, maka setelah sampai kepada saat kita sudah seperti ibaratnya diujung tanduk, kita pasrah kepada ALLAH.

  • Setelah kita berusaha secara maksimal,  datanglah rezeki karunia atau Hasil Pembayaran atas hasil kerja kita, yang sebenarnya adalah tersedianya Jatah Rejeki kita dari ALLAH Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki, yang diturunkan ALLAH melalui  manusia atau wadah dimana kita bekerja untuk mencari Nafkah Karunia ALLAH, dimana ALLAH mengetuk hati orang untuk memanggil atau menghubungi kita untuk diberikan pekerjaan atau proyek;       

Kita harus yakin bahwa rejeki manusia juga tidak akan tertukar satu dengan lainnya;, sehingga adalah haram kita mengambil Hak Rejeki orang lain. 

  • Demikianlah  penerapan dari pengertian Shahadat, dimana kita mengakui dan bersaksi bahwa tidak ada Zat Yang Mencipta dan Memberi Rezeki didunia ini kecuali ALLAH, sehingga kepada ALLAH - lah kita tunduk dan memperbudak dan mengabadikan diri kita didunia ini dengan mengikuti perintah ALLAH dan menjauhkan larangannya, dimana kita nanti dapat merasakan kedekatan zat ALLAH kepada diri kita,  dimana jika kita berdoa ALLAH akan mengabulkan permintaan dan kebutuhan kita didunia.
Kisah, petunjuk dan kabar gembira serta kisah diatas dapat kita baca dalam Kitab Suci ALLAH yang diturunkan kepada para Nabi terdahulu dan terakhir melalui Kitab Suci ALLAH yang ditureunkan ALLAH kepada Nabi Muhammad S.A.W. sebagai Rasul Penutup dan terkakhir; 

Karenanya butir kedua dari Shahadat  adalah kita sebagai kaum muslim (artinya kaum yang pasrah kepada ALLAH) bersaksi dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasul ALLAH.        

Jakarta 17 Januari 2013  
Agung S.Suleiman
Disaat Jakarta sedang terkena Banjir - 5 tahunan sekali

  
    

No comments:

Post a Comment