Friday, April 23, 2010

Membangun Kesadaran

Untuk membangun suatu kesadaran adalah memakan waktu dan bukanlah dengan sesuatu yang instant. Tidak ada sesuatu didunia ini yang instant dan seketika. Semua membutuhkan proses dan pengorbanan. Ada jatuh dan bangun, banyak tempaan dan cobaan serta rintangan yang melintang. Namun jika kita mencoba meluruskan kesadaran kita dengan niat yang serius dan tulus Insya ALLAH, dengan Izin ALLAH kita akan dibukakan suatu jalan untuk meneruskan perjalanan membangun kesadaran kita menuju kebenaran dan hakekat kehidupan.

Jika kita mencari suatu jalan yang pintas dan seketika, pastilah hal tersebut akan menyebabkan kerugian atau ada pihak yang dikorbankan secara tidak benar dan fair. Proses membangun kesadaran haruslah ditempuh melalui suatu jalan yang berliku-liku. Dalam dunia yang nyata jika kita hendak mendadak kaya atau mengumpullkan harta tanpa melalui suatu proses yang benar, maka biasanya yang dilakukan adalah dengan suatu jalan yang pintas dimana seringkali yang terjadi,  jika memakan uang rakyat atau negara yang bukan hak kita namakan Korupsi. Dalam tindakan memakan hak orang lain ini khususnya milik Rakyat dan Negara tentunya yang menjadi korban adalah Rakyat sebagai pemilik Negara. 

Jika itu adalah sebuah bangunan, maka ada suatu adukan semen dan pasir misalnya yang takerannya tidak sesuai dengan ukuran dan volume yang seharusnya diterapkan. Maka tentunya terjadi pengorbanan baik atas kekuatan atau volume dan ukuran yang tercantum dalam spesifikasi teknis. Dengan demikian kita haruslah belajar dari hukum alam maupun segala yang terjadi didunia ini, jika terjadinya proses pembangunan baik mental. atau kesadaran untuk mencari kebenaran itu melalui  suatu jalan pintas yang instant tentunya terjadilah penyimpangan keadaan yang tidak seimbang maupun menjadi tak berkekuatan yang kokoh alias rapuh.Dalam menjalani proses tersebut  kadangkala kita frustasi dan mengalami  suatu keadaan atau suasana yang buntu, khususnya jika apa yang kita inginkan belum juga nampak menunjukan hasil yang konkrit dan nyata sesuai dengan apa yang kita bayangkan atau harpkan. Buntu dan cupet rasanya pikiran dan perasaan kita.  

Pada saat demikian dikala rasanya semua jalan sudah buntu, kita dipaksa untuk mengakui ketidak mampuan dan keberdayaan kita sebagai manusia yang terbatas. Pada saat inilah timbul suatu kesadaran akan adanya sesuatu Kekuatan Yang Maha Kuasa yang sedang melihat kita dari satu jarak yang sebenarnya dekat dan lebih dekat dari urat leher kita sendiri, namun kadangkala kita tidak menyadarinya, karena selama ini mungkin kita belum mengalami suatu keadaan yang seolah buntu dan gelap atau samar-samar ini. Pada keadaan inilah kita dipaksa untuk pasrah dan mengakui adanya Sang Maha Kuasa tempat kita mengadu dan meletakan beban yang ada dipunggung kita untuk kita pasrahkan kepada ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta.       

Kadangkala menetes air mata mendengarkan suara azan dari kejauhan, dimana kita disaat terjepit ternyata membuahkan suatu perasaan Iman dan Kepercayaan kepada ALLAH Yang Maha Kuasa yang sangat lezat rasanya yang susah untuk diutarakan dengan kata-kata yang terbatas dengan dimensi materi ini.
Suasana hening kemudian muncul dan kita dapat merasakan sesama insan yang sedang merasakan dalam keadaan kepepet dan tak berdaya sebagai Cobaan dari Sang Maha Kuasa apakah kita masih bersyukur dan mempunyai rasa sabar dan taqwa kepada Suratan yang ditakar dan digariskan atas setiap  insan  manusia untuk meningkatkan dan membangun kesadaran ketaqwaan kepada ALLAH Yang Maha Kuasa Dan Maha Melihat.  
Agung Supomo Suleiman
23 April 2010   

No comments:

Post a Comment